Menumbuhkan 4 Kecerdasan Pada Aktivitas Makan Anak Usia Dini

Daftar Isi: [Show]
Assalamualaikum, ayah bunda pagi tadi (27 Nov 2018) saya menyimak penjelasan menarik dari teh Diah Mahmudah di Mara FM tentang Menumbuhkan 4 Kecerdasan Pada Aktivitas Makan Anak Usia Dini.





Ternyata, aktivitas makan pada anak usia dini bukan sesuatu hal yang bisa di sepelekan karena selain memberi nutrisi, aktivitas makan ini dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosional, adversity quotient, intelektual dan spiritual anak. wahh ternyata kompleks juga ya.

Peran seorang ibu berpengaruh besar terhadap perilaku makan anak dan perkembangan nya. Oleh sebab itu seorang ibu perlu memiliki stabilitas emosi yang baik dan kesadaran bahwa aktivitas makan pada anak adalah pengalaman yang sangat krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Bahkan apa yang di makan ibu ketika mengandung selain berpengaruh terhadap perkembangan janin, juga mempengaruhi respon anak terhadap pemilihan makanan nanti. Disebutkan oleh teh Diah bahwa terdapat suatu riset yang menyebutkan "bayi yang sudah lahir akan merespon makanan yang sering di makan oleh ibunya ketika mengandung. Responsifitasnya lebih tinggi terhadap makanan itu".

Ya. Seberpengaruh itu bu, respon anak terhadap pola makan kita. 





Makan & Kecerdasan Emosional

Pada Anak 0-6 tahun otak yang berkembang pertama kali adalah otak emosi. Semua peristiwa akan di indera dan respon melalui emosinya. Oleh sebab itu sangat penting untuk membuat aktivitas makan sebagai aktivitas yang menyenangkan.

Seperti yang kita ketahui, Perilaku/respon anak terhadap makanan selain dipengaruhi faktor dari diri anak itu sendiri seperti faktor pertumbuhan gigi, mood dll . juga dipengaruhi oleh bagaimana pola feeding (pemberian makan) yang orangtua terapkan.Terutama di 6 tahun pertama.  Otak anak akan mengasosiasikan makanan dan pola aktivitas makan saat itu, tertanam di alam bawah sadarnya dan mempengaruhinya saat dewasa. 

Jika aktivitas makan dianggap sesuatu yang buruk akibat pengalaman traumatik anak, tidak menutup kemungkinan anak menjadi phobia terhadap makanan tertentu, GTM (gerakan tutup mulut), atau anak jadi picky eater (pemilih). Tidak sedikit kan anak ataupun orang dewasa yang phobia akibat pengalaman buruk saat masih kecil?. Ada yang mengalami?

Teh Diah menjelaskan bahwa ia mengamati dua orang pemuda yang phobia terhadap nasi. Setelah ditelusuri ternyata kedua pemuda itu mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan/traumatik ketika memakan nasi, seperti di jejal, di paksa, di ancam dll. Hal itu tertanam di benak alam bawah sadarnya, lambat laun tubuh merespon dengan rasa takut, berdebar ketika melihat nasi hingga menjadi phobia (ketakutan yang irrasional).

Lalu Bagaimana Agar aktivitas makan membangkitkan emosi yang positif? 

Beliau menyarankan untuk menghindari kata "Harus!. Jangan! dan Awas!.
misalnya ketika orangtua memaksa anak harus makan nasi, padahal anak sedang tidak mau atau sudah kenyang karena makan kentang. Sementara orangtua terus memaksa "Pokoknya Harus makan nasi!". "Jangan Berantakan!". "Awas kalau tidak makan nanti tidak ibu kasih uang jajan.......(ancaman)"
Disini anak melihat suatu kewajiban yang menyiksa, anak merespon dengan emosi negatif dan mengasosiasikan nasi dengan kondisi mamah yang marah.

Ganti dengan kata "Ayo, kita makan...."
 "yuk nak 10 menit lagi kita makan yuk". "yuk kita coba makan sayurnya , biar sehat"

Aktifitas makan dibagi menjadi 3 aktivitas. Pre (persiapan) - During (selama makan) - After (setelah).
Kondisikan ketiga itu agar menjadi aktivitas yag menyenangkan.
Bangkitkan antusias anak dari mulai persiapan sampai setelah makan agar anak membangun pengalaman positif di benaknya. Sedikit demi sedikit bantu anak untuk memahami bahwa makan adalah kebutuhannya.

Jangan lupa ajak anak untuk menghargai makanan yang ada, juga ajarkan anak untuk berbagi.

Makan & Adversity-quotient

Untuk anak dalam masa MPASI, kita bisa mengkombinasikan metode pemberian makan spoon feeding dan BLW (Baby led weaning) sesekali untuk membangkitkan partisipasi anak memilih, memegang, dan menyuapkan makanannya sendiri. Namun harus tetap dalam pengawasan agar anak tidak tersedak.

Libatkan anak dalam mempersiapkan makanannya sendiri misal mengambil piring, menyendok makanan bahkan membantu memasak agar anak mempunyai rasa tanggung jawab sedikit demi sedikit atas kebutuhannya. begitupun setelah makan, ajak anak untuk membantu membereskan sesuai usianya.

ini adalah latihan tanggung jawab, keyakinan kemampuan diri, tantangan : melatih Adversity quotient (kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup)

Makan & Kecerdasan Intelektual

Makan dan kecerdasan intelektual dikaitkan oleh aktivitas edukasi, menambah informasi / pengetahuan baru, mulai dari mengenalkan nama atau jenis makanan, warna, bentuk, manfaatnya dll. Jelaskan sesuai usia anak. Selain itu bisa mengenalkan peralatan makan.

Kegiatan makan ini bisa untuk stimulasi indera/sensori (pengecapan, penciuman, pendengaran, penglihatan, tekstur, persendian/otot, balance/keseimbangan).
Semakin di rangsang melalui makanan maka sinaps-sinaps pada otak akan semakin terhubung sehingga anak menjadi semakin cerdas. 


Makan & Kecerdasan Spiritual

Makan dan keimanan anak? bagaimana hubungannya?
eits, dari proses menyusui pun sudah bisa kita bangkitkan spiritualnya dengan menatap, membangun koneksi batin antara anak-ibu dan pencipta. Mengajaknya berdoa.

"Bismillah hari ini ada rejeki dari Allah melalui ASI, yuk kita makan sayang", lalu lanjutkan berdoa. tatap anak jangan di sambi main handphone kalau bisa.

Selalu ingatkan, biasakan anak bahwa aktivitas makan bukan hanya memasukan makanan ke mulut tapi juga rasa syukur bahwa apa yang ia makan adalah pemberian Allah. Tanamkan bahwa yang menciptakan sayur, buah, hewan, alam semesta adalah Allah. 
Mencontohkan membiasakan makan dengan tangan kanan serta adab makan lainyya. dll. Setelah usia anak cukup besar terangkan hadist dan penjelasannya sesuai usia.

Makan bukan hanya sekedar makan :)



Komentar

Subscribe